Bimtek Pengelolaan OP Irigasi Bagi ASN dan Non ASN UPTD PSDA

Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Operasi dan Pemeliharaan (OP) Irigasi Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non ASN Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelayanan Sumber Daya Air (UPTD PSDA). Peserta bimtek terdiri dari pegawai ASN dan non ASN lingkup Bidang Sumber Daya Air dan UPTD PSDA DPUPKP Kabupaten Sleman bertempat di Hotel Paku Mas Jalan Nogopuro Nomor 35, Ambarukmo Depok Sleman, Kamis (22/02/2024).

Bimtek ini dibuka oleh Subkoordinator Kelompok Substansi Perencanaan Teknis dam Pembinaan Sumber Daya Air Warjoyo dilanjutkan dengan paparan materi oleh Arik Sugiyarto dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Paparan materi tersebut mengulas tentang operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi meliputi perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi dengan pokok bahasan landasan hukum, konsepsi OP irigasi, pengertian-pengertian terkait irigasi, operasi jaringan irigasi (perencanaan operasi jaringan irigasi dan pelaksanaan operasi jaringan irigasi), pemeliharaan jaringan irigasi (perencanaan pemeliharaan jaringan irigasi, identifikasi dan analisa tingkat kerusakan, pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi, dan pengamanan jaringan irigasi), dan pemantauan dan evaluasi.

Dalam pemantauan dan evaluasi mencakup pemeliharaan yang dilaksanakan secara swakelola, yakni monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap realisasi penggunaan sumber daya (tenaga, bahan, alat, dana, dll), pemantauan dapat dilakukan harian/mingguan sesuai dengan yang ditetapkan oleh pengelola, setiap akhir bulan dan setiap akhir pekerjaan dilakukan evaluasi untuk penyempurnaan proses pemeliharaan, juru/pengamat mencatat hasil kegiatan pemeliharaan di dalam Buku Catatan Pemeliharaan (BCP), dan di dalam BCP harus jelas terbaca bagian bangunan atau ruas saluran yang sudah atau belum dilaksanakan pemeliharaannya.

Pada sesi kedua, Dr. Murtiningrum, S.T.P., M.Eng (Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) memaparkan materi terkait metode pengukuran debit saluran terbuka. Debit secara umum didefinisikan sebagai volume fluida yang mengalir melalui suatu penampang melintang per satuan waktu. Pengukuran debit diperlukan di berbagai bidang di bidang teknik pertanian seperti untuk pengukuran debit saluran irigasi, pengukuran debit sungai pada hidrologi, pengukuran debit udara pengering pada teknik pasca panen, dan pengukuran debit bahan bakar untuk mesin pertanian dan lain-lain. Ada dua metode yang umum digunakan pada pengukuran debit di saluran air terbuka, yakni metode velocity area dan metode aliran kritis.

Metode velocity area didasarkan pada definisi debit itu sendiri yaitu volume dibagi waktu, jika volume dipisahkan menjadi luas kali jarak maka debit adalah luas penampang kali kecepatan, jadi pada pengukuran debitnya dengan mengukur luas penampang dan kecepatan. Ada dua alat yang biasa digunakan untuk mengukur kecepatan air di saluran irigasi, yakni pelampung dan current meter. Prinsip pengukuran kecepatan dengan pelampung adalah panjang lintasan dibagi dengan waktu untuk menempuh lintasan tersebut dengan beberapa syarat, diataranya adalah ruas saluran yang lurus, tidak berubah bentuk penampang, tidak ada bangunan, dan tidak terganggu oleh sampah maupun tanaman. Baik pelampung maupun current meter sebagai pengukur kecepatan harus disertai dengan pengukuran luas penampang yang bisa diukur dan dihitung sesuai dimensinya.

Metode kedua pengukuran debit adalah metode aliran kritis yang sangat umum digunakan di saluran irigasi. Metode aliran kritis diturunkan dari hubungan debit tinggi muka air dan energi spesifik suatu aliran. Agar debit dapat diukur hanya mengukur kadalaman air saja, maka pada bagian-bagian tertentu di saluran irigasi aliran air dibuat menjadi aliran kritis yaitu dengan cara melewatkan aliran di bagian tertentu yang disebut bangunan ukur. Ada banyak cara untuk membuat aliran kritis yang dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu ambang lebar (aliran diberi ambang yang mempunyai lebar tertentu), ambang tajam (aliran diberi ambang yang terbuat dari plat tipis yang berbentuk segitiga atau trapesium), flume (penyempitan dinding saluran), dan orifice (melewatkan aliran pada lubang di penampang saluran). Tiap jenis bangunan ukur yang dibuat untuk memudahkan operasi irigasi mempunyai karakteristik hidrolik tertentu sehingga pemilihan tipe bangunan ukur disesuaikan antara kondisi alamiah dengan karakteristik hidrolik yang diperlukan.

Dengan adanya bimtek ini, diharapkan para peserta dapat memahami materi yang telah diberikan dan dapat melakukan kegiatan OP jaringan irigasi maupun pengukuran debit saluran terbuka dengan lebih baik. Pada kesempatan selanjutnya, para peserta akan mengikuti praktik langsung pengukuran debit saluran terbuka di lokasi jaringan irigasi yang akan dipandu kembali oleh Dr. Murtiningrum, S.T.P., M.Eng beserta tim dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.


Foto Suasana Bimtek Pengelolaan OP Irigasi Bagi ASN dan Non ASN UPTD PSDA

Bagikan Halaman / Postingan ini :